Mataram, HOTTOPIC – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengintegrasikan sistem pengelolaan sampah dengan penguatan ekonomi masyarakat melalui pengolahan limbah organik menjadi pupuk dan energi.
Kepala BRIDA NTB I Gede Putu Aryadi menekankan pentingnya sinergi antarpihak dalam menjaga keberlanjutan program pengelolaan limbah agar memberikan dampak nyata bagi pembangunan.
“Pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, dan mitra pembangunan perlu bekerja dalam satu ekosistem agar berbagai inisiatif yang telah berjalan tidak berhenti secara parsial,” kata I Gede Putu Aryadi, Selasa (1/9/2026).
Aryadi menjelaskan bahwa pengelolaan sampah harus menjadi bagian dari solusi persoalan pembangunan, mulai dari pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, hingga penguatan sektor pariwisata. Potensi sampah organik sebagai pupuk dan sumber energi dinilai mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus mengurangi beban lingkungan.
Pemerintah daerah menegaskan bahwa kunci keberhasilan program terletak pada penguatan kelembagaan dan model bisnis yang mampu menjaga keberlangsungan sistem, bukan sekadar penyediaan infrastruktur fisik.
“Program pengelolaan sampah tidak boleh berhenti pada pembangunan fasilitas, tetapi harus memastikan adanya kelembagaan, sumber daya manusia, model bisnis, dan mekanisme pengelolaan yang mampu menjaga keberlanjutan program,” ujar Aryadi.
Upaya ini direalisasikan melalui proyek Pengelolaan Limbah Terpadu (PELITA) yang bekerja sama dengan pemerintah Inggris. Proyek ini menargetkan 28 Desa Berdaya dengan melibatkan berbagai kelompok masyarakat, termasuk perempuan dan pemuda, untuk mewujudkan ekonomi sirkular yang inklusif.
Koordinator Pembangunan Rendah Karbon Bappenas, Anna Amaliya, dalam kesempatan yang sama menyatakan bahwa penanganan isu lingkungan telah menjadi bagian krusial dalam perencanaan pembangunan nasional.
“Pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat perlu berjalan seiring dengan upaya menurunkan emisi gas rumah kaca,” tegas Anna Amaliya.
Data dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB menunjukkan produksi sampah di wilayah tersebut mencapai 2.500 ton per hari. Kondisi ini mendorong perubahan paradigma pengelolaan sampah, dari sistem tradisional “kumpul-angkut-buang” menuju pemilahan serta pengolahan sejak dari sumber.
Pewarta: Ichan
Editor: Saiful Muhlis

