Mataram, HOTTOPIC – Universitas Mataram (Unram) mendorong pemerintah dan masyarakat di Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk memperkuat mitigasi dalam menghadapi kemarau panjang yang beriringan dengan fenomena El Nino.
Dosen Program Studi Ilmu Lingkungan Universitas Mataram, Hilman Ahyadi, menjelaskan bahwa musim kemarau sebenarnya merupakan fenomena periodik tahunan. Kendati demikian, kondisi saat ini menjadi lebih menantang karena terjadi bersamaan dengan El Nino yang berpotensi memperparah kekeringan di berbagai wilayah.
“Ini kemungkinan besar bukan hanya intensitasnya yang cukup tinggi cuman periodenya relatif lama. Ini juga berdasarkan informasi dari BMKG,” ujarnya di Mataram, Sabtu (12/9/2026).
Kondisi anomali cuaca tersebut berisiko meningkatkan intensitas serta memperpanjang periode kemarau secara signifikan. Dampak langsungnya akan sangat dirasakan pada penurunan ketersediaan air bersih untuk kebutuhan harian masyarakat maupun pasokan irigasi lahan pertanian. Berkurangnya pasokan air irigasi berisiko menurunkan produktivitas tanaman pangan dan memicu ancaman gagal panen apabila para petani tidak segera melakukan penyesuaian pola tanam.
Dalam meminimalisasi risiko tersebut, pemerintah daerah diharapkan meningkatkan sosialisasi, pengawasan, serta pengendalian terhadap aktivitas pembakaran terbuka, baik pembakaran sampah rumah tangga maupun pembukaan lahan. Selain mitigasi kebakaran, sektor pertanian juga dituntut untuk segera beradaptasi dengan menyesuaikan pola tanam berdasarkan kalender pertanian serta beralih ke komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi minim air.
“Tanaman padi atau palawija jangan ditanam saat musim kemarau, tapi tanam yang tahan kekeringan misalnya seperti tembakau,” ucap dia.
Lebih lanjut, konservasi air di area persawahan sangat diperlukan guna mempertahankan ketersediaan air selama periode kemarau yang berlangsung lebih panjang. Pada skala rumah tangga, masyarakat diimbau untuk lebih bijak menghemat air bersih dan menjaga kebersihan wadah penampungan agar tidak menjadi sarang nyamuk penular penyakit.
Sanitasi lingkungan juga wajib dijaga dengan tidak membuang limbah domestik ke selokan atau lahan terbuka, karena genangan limbah yang mengering dapat memicu penumpukan kotoran dan mengundang vektor penyakit seperti nyamuk, tikus, lalat, hingga kecoak. Di sisi lain, suhu ekstrem selama kemarau panjang juga meningkatkan ancaman dehidrasi, terutama bagi pekerja luar ruangan seperti petani, peternak, dan nelayan.
Kesimpulannya, sinergi mitigasi dan adaptasi yang komprehensif antara pemerintah dan seluruh elemen masyarakat sangat mutlak diperlukan guna meminimalkan dampak buruk kekeringan terhadap stabilitas lingkungan, produktivitas pertanian, serta derajat kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
“Mitigasi dan adaptasi perlu dilakukan bersama untuk mengurangi dampak kekeringan terhadap lingkungan, pertanian, dan kesehatan masyarakat,” pungkas Hilman.
Pewarta: Ichan
Editor: Saiful Muhlis

