Sangiang Api dan Tambora Jungle Run 2026: Event Besar yang Putar Ekonomi Bima

Bima, HOTTOPIC – Pemerintah Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu sukses menggelar dua ajang wisata besar, yakni Festival Sangiang Api dan Tambora Jungle Run. Kedua event tersebut terbukti efektif menggerakkan ekowisata berbasis alam sekaligus memutar roda perekonomian masyarakat setempat secara berkelanjutan.

Kesan mendalam terekam kuat dari riuh sorak warga di pesisir Sangiang hingga derap langkah ratusan pelari yang menembus savana Gunung Tambora. Dua acara yang berlangsung dalam suasana berbeda ini menyisakan dampak serupa, yaitu geliat transaksi ekonomi warga yang melonjak drastis melalui kuliner, transportasi, penginapan, hingga produk kreatif lokal.

Di Desa Sangiang, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, semarak tradisi bahari terpancar lewat Festival Sangiang Api 2026 yang berlangsung mulai Minggu, (30/08/2026) hingga Selasa, (08/09/2026). Sebagai pintu gerbang menuju pulau vulkanik aktif Gunung Sangiang Api, kawasan pesisir ini menawarkan perpaduan potensi alam dan budaya yang dikemas menarik lewat olahraga tradisional dan bazar UMKM.

Lomba perahu layar menjadi magnet utama, di mana tujuh perahu tradisional membelah lautan menuju daratan Desa Sangiang. Acara ini berhasil menarik kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara, yang berimbas positif pada peningkatan pendapatan para pengrajin perahu tradisional, pedagang suvenir, dan penyedia jasa penyeberangan.

Bagi pelaku usaha mikro, geliat festival tahunan ini mendatangkan keuntungan berlipat ganda karena barang dagangan mereka habis terjual jauh lebih cepat dibanding hari-hari biasa.

“Sangat laku dan keuntungannya sampai berkali-kali lipat. Stok jualan saya beberapa kali sampai ludes,” tutur Farida, salah seorang pelaku ekonomi kreatif setempat.

Guna memaksimalkan dampak ekonomi ke depan, Dinas Pariwisata Kabupaten Bima berencana merancang integrasi rute wisata agar jangkauan kunjungan wisatawan bisa lebih merata ke destinasi sekitarnya.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bima, Muhamad Akbar, menilai festival ini memiliki potensi yang lebih besar jika ke depannya dikembangkan secara terintegrasi dengan menghubungkan Sangiang ke destinasi unggulan lain, seperti Sape, Lambu, dan Sanggar.

Sementara itu, pesona alam Gunung Tambora dieksplorasi melalui ajang olahraga petualangan Tambora Jungle Run 2026 pada Minggu, (30/08/2026) di kawasan Sanctuary Resort Doroncanga, Kabupaten Dompu. Sekitar 500 pelari dari berbagai wilayah di Indonesia berlomba menaklukkan tiga kategori lintasan ekstrem.

Bupati Dompu yang turut serta dalam kategori lari santai menyampaikan komitmennya untuk mempromosikan pariwisata alam sekaligus menyerukan pentingnya pelestarian ekosistem hutan lindung.

“Kami ingin memperlihatkan bahwa Dompu memiliki potensi wisata alam yang luar biasa. Melalui ajang olahraga ini, kami juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga kelestarian Tambora,” ujarnya.

Pihak pengelola taman nasional meyakini bahwa penyelenggaraan kegiatan olahraga ramah lingkungan seperti ini merupakan langkah strategis untuk menumbuhkan klaster ekonomi baru bagi masyarakat sekitar hutan secara jangka panjang.

“Dampak langsungnya memang terasa saat acara berlangsung. Namun untuk jangka panjang, kami berharap ini memicu pengembangan kawasan, agrowisata, dan usaha masyarakat yang berkelanjutan,” ungkap Kepala Balai Taman Nasional Tambora, Abdul Azis Bakry.

Keunikan trek yang membentang dari garis pantai hingga ke wilayah ketinggian pegunungan dinilai menjadi daya tarik petualangan yang sangat kompetitif dan jarang ditemukan di tempat lain.

“Daya tarik paling ikonik adalah kombinasi lintasannya, dimulai dari 0 mdpl hingga menembus sekitar 2.000 mdpl,” tambah Abdul Azis.

Manfaat ekonomi langsung juga dirasakan oleh para pedagang lokal, salah satunya kedai kopi khas Tambora yang berhasil membukukan keuntungan penjualan hingga dua kali lipat selama acara berlangsung.

“Penjualannya sangat bagus, tidak sampai sehari sudah habis. Modal awal yang kami siapkan sekitar Rp1 juta bisa menghasilkan omset hingga Rp2 jutaan,” tutur Stekhen, pemilik Coffeezone.

Secara keseluruhan, baik Sangiang maupun Tambora menunjukkan bahwa pengelolaan wisata berbasis komunitas yang berkelanjutan dapat menjadi pilar baru perekonomian daerah tanpa merusak kelestarian alam dan tradisi lokal.

Pewarta: Ichan
Editor: Saiful Muhlis