Mataram, HOTTOPIC – Seorang mahasiswi Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Mataram (Unram), Nusa Tenggara Barat (NTB), berhasil mengembangkan alat pemantau kualitas perairan berbasis Internet of Things (IoT) untuk mempermudah perolehan data kondisi perairan secara real-time.
Mahasiswi bernama Effi Mujahidah Saniyyah tersebut menamai inovasinya sebagai Sonora Marine, sebuah prototipe sistem yang dirancang untuk mengintegrasikan ilmu kelautan dengan teknologi terkini.
“Sonora Marine merupakan singkatan dari Smart Ocean Network and Observation for Research and Analysis yang menggabungkan ilmu kelautan dengan teknologi,” ujar perempuan yang akrab dipanggil Sani di Mataram, Rabu (14/10/2026).
Alat ini menggunakan mikrokontroler ESP32 yang diintegrasikan dengan berbagai sensor untuk membaca parameter penting kualitas air, meliputi suhu, tingkat pH, dan salinitas. Data yang terkumpul dari sensor tersebut kemudian dapat ditampilkan dan dipantau secara langsung melalui perangkat seperti telepon seluler.
Sani menjelaskan bahwa Sonora Marine tidak ditujukan untuk langsung menyelesaikan seluruh persoalan pemantauan laut, tetapi menjadi prototipe yang dikembangkan agar proses pemantauan kondisi perairan dapat dilakukan secara lebih praktis dan terintegrasi.
Inspirasi pengembangan alat ini muncul saat Sani mengikuti kegiatan di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), khususnya terkait riset lingkungan perairan dan budi daya anggur laut atau Caulerpa. Dari pengalaman tersebut, ia terdorong untuk menggabungkan pengetahuan kelautan dengan teknologi.
Tantangan besar dihadapi Sani dalam proses pengembangan, mengingat ia tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang pemrograman maupun elektronika. Ia merupakan lulusan SMA jurusan Bahasa sebelum menempuh pendidikan di Ilmu Kelautan.
Ia menempuh jalan otodidak dengan mempelajari pemrograman dari dasar, termasuk penggunaan modul ESP32, sensor, proses wiring, kalibrasi, hingga pengujian alat dan debugging.
“Karena aku belajar coding dari nol, proses debugging juga menjadi tantangan tersendiri,” kata Sani.
Sebagai bentuk perlindungan atas inovasi yang dihasilkan, Sani telah mengurus Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berupa hak cipta untuk program komputer yang menjalankan sistem Sonora Marine. Perlindungan tersebut difokuskan pada kode program yang menjadi otak dari sistem, bukan pada perangkat fisiknya.
Kedepannya, Sani berkomitmen untuk terus menyempurnakan Sonora Marine melalui pengujian lapangan yang lebih luas agar sistem dapat disesuaikan dengan kebutuhan nyata di perairan.
“HKI itu bukan titik akhir, tapi justru bisa menjadi salah satu langkah awal untuk pengembangan berikutnya,” ucapnya.
Pewarta: Ichan
Editor: Saiful Muhlis

