NTB, HOTTOPIC – Badan Gizi Nasional (BGN) mengevaluasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sumbawa Tarano Labuhan Bontong di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), setelah sejumlah siswa penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengalami gangguan kesehatan pada Selasa (27/10).
Juru Bicara BGN Tysa Novenny mengatakan operasional SPPG tersebut telah dihentikan sementara dengan status suspend kategori sedang. BGN masih menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan oleh instansi terkait sebagai bagian dari proses penelusuran.
“SPPG Sumbawa Tarano Labuhan Bontong saat ini sudah diberikan surat pemberhentian sementara atau suspend dengan kategori sedang. Berkaitan dengan tindak lanjutnya, kami akan menunggu hasil pemeriksaan makanan oleh instansi terkait,” Hal itu disampaikan Tysa di Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Evaluasi Prosedur Pengolahan dan Penyajian MBG
Tysa menjelaskan bahwa evaluasi dilakukan untuk memastikan setiap SPPG menjalankan prosedur pengolahan dan penyajian MBG sesuai standar yang ditetapkan. Setiap temuan akan menjadi bahan untuk menentukan langkah perbaikan sekaligus memperkuat pengawasan pelaksanaan program.
“Kami menelusuri setiap tahapan, mulai dari pengolahan hingga penyajian makanan, untuk mengetahui apakah terdapat prosedur yang belum dijalankan sesuai ketentuan. Hasil evaluasi ini akan menjadi dasar bagi langkah perbaikan agar standar keamanan pangan diterapkan secara konsisten,”
BGN juga menyampaikan permohonan maaf kepada siswa terdampak, orang tua, dan pihak sekolah atas kejadian gangguan kesehatan tersebut.
BGN memahami kekhawatiran keluarga dan memastikan koordinasi dengan pihak terkait terus dilakukan untuk mendukung penanganan siswa serta mengawal proses evaluasi.
34 Siswa Diobservasi, Penyebab Masih Ditelusuri
Berdasarkan laporan hingga Selasa (27/10) pukul 22.35 WITA, sebanyak 34 siswa telah menjalani observasi di dua fasilitas pelayanan kesehatan. Sebanyak 32 siswa diobservasi di Puskesmas Tarano dan dua siswa di Puskesmas Empang.
Dalam perkembangan penanganan, kondisi siswa terdampak dilaporkan berangsur membaik. Dua siswa telah diperbolehkan kembali ke rumah.
Investigasi awal menunjukkan dugaan sementara mengarah pada menu telur saus woku yang disajikan kepada penerima manfaat. Berdasarkan keterangan awal kepala SPPG, telur direbus sekitar pukul 00.00 WITA, sedangkan sesuai prosedur, proses perebusan seharusnya dimulai pukul 02.00 WITA.
BGN menegaskan bahwa temuan awal itu belum dapat menjadi dasar untuk menyimpulkan penyebab pasti kejadian. Penelusuran masih berlangsung, sementara hasil pemeriksaan instansi terkait akan menjadi bagian penting dalam menentukan tindak lanjut yang diperlukan.
Tysa menegaskan setiap temuan akan ditindaklanjuti melalui evaluasi sesuai ketentuan.
“Setiap temuan akan ditindaklanjuti melalui evaluasi sesuai ketentuan. Kami juga terus memperkuat pengawasan agar seluruh tahapan pelayanan, mulai dari penyiapan bahan, pengolahan, hingga penyajian makanan, memperhatikan standar keamanan pangan,”
Pewarta: Ichan
Editor: Saiful Muhlis

