Tekstil Tradisional Lombok Mendunia Lewat Buku 500 Halaman yang Rilis di Australia

Mataram, HOTTOPIC – Kekayaan tekstil tradisional Pulau Lombok dan Bali kini resmi menembus literasi internasional melalui peluncuran buku bertajuk “Two Islands, One Thread: Lombok and Bali Textiles” di Adelaide, Australia Selatan. Buku karya kolektor asal Australia, Michael Abbott, tersebut menjadi bukti nyata pengakuan dunia terhadap nilai seni dan historis wastra Nusantara.

Penerbitan buku setebal sekitar 500 halaman ini mendokumentasikan secara rinci keunikan motif, benang, corak, hingga bahan tenun khas Lombok seperti songket dan limpot umbaq. Kolaborasi ini melibatkan Art Gallery of South Australia (AGSA) dan Museum Negeri NTB, yang mempererat hubungan diplomasi kebudayaan serta pertukaran pengetahuan antar-museum kedua negara.

Secara umum, kehadiran literasi internasional ini dinilai sangat strategis untuk mengamankan data sejarah kebudayaan lokal sekaligus menjadi media promosi jangka panjang. Melalui dokumentasi yang kredibel, kain tradisional Lombok tidak hanya dipandang sebagai komoditas seni, melainkan juga sebagai simbol peradaban yang mampu mempererat persahabatan bilateral antara Indonesia dan Australia.

Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam menilai penerbitan buku tersebut memiliki arti penting dalam memperkuat literasi mengenai kain tradisional Lombok di kancah internasional.

“Buku tersebut dapat menjadi referensi penting tentang kain Lombok dalam literasi internasional selama dua hingga tiga dekade mendatang. Jadi pada ujungnya adalah memperkenalkan kain NTB ke dunia,” ujar Ahmad Nuralam, Senin (14/9/2026).

Ia mengatakan pendokumentasian tekstil tradisional dalam publikasi internasional dapat memperluas pengetahuan masyarakat dunia mengenai kekayaan budaya Indonesia, terutama warisan tekstil Lombok dan Bali.

Menteri Perdagangan dan Pariwisata Australia Don Farrell mengungkapkan literasi kain Lombok dan Bali memiliki arti penting dalam mempererat hubungan Indonesia dan Australia melalui kebudayaan.

Menurut Don Farrell, kebudayaan dapat menjadi jembatan yang mempertemukan masyarakat kedua negara dan membuka ruang yang lebih luas untuk saling memahami.

“Buku itu mengajak kita untuk memahami tentang hubungan antar manusia, sejarah, dan kebudayaan,” ucap Don Farrell.

Dia menyampaikan kain tradisional memiliki kekuatan untuk menceritakan perjalanan suatu peradaban, sehingga pendokumentasian melalui buku dapat membuat masyarakat seluruh dunia mengenal warisan wastra asal Lombok dan Bali.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTB Sinta Agathia memandang buku “Two Islands, One Thread: Lombok and Bali Textiles” tidak sekadar mendokumentasikan kain tradisional, tetapi juga merekam hubungan budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Ia menegaskan buku tersebut tidak bertujuan membandingkan tekstil Lombok dan Bali, melainkan mengisahkan cerita tentang hubungan budaya, persahabatan, serta pertukaran pengetahuan yang telah terjalin antara dua pulau yang bertetangga.

“Buku itu mendokumentasikan keterkaitan tersebut dengan indah. Kita juga dapat melihat hubungan yang erat antara Lombok dan Bali,” kata Sinta Agathia.

Pewarta: Ichan
Editor: Saiful Muhlis