BNPT dan KP2MI Perkuat Ketahanan Komunitas PMI di NTB dari Ancaman Ekstremisme

KOTA MATARAM, HOTTOPIC – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersinergi dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) menggelar workshop penguatan komunitas Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hotel Santika, Mataram, Rabu (4/11/2026).

Kegiatan ini bertujuan membekali komunitas PMI dengan kemampuan mengenali propaganda serta respons dini terhadap ancaman ekstremisme berbasis kekerasan yang menyasar para pekerja migran.

Workshop yang diikuti oleh berbagai organisasi seperti Desa Migran Emas, Migran Care, SBMI, DesBumi, ADBMI, dan Pancakarsa ini menyoroti kerentanan PMI akibat keterbatasan lingkungan sosial dan akses informasi selama bekerja di luar negeri.

Kasubdit WNI BNPT, Thomas HK. Sinaga, menekankan bahwa pencegahan harus dilakukan secara berkelanjutan melalui literasi digital dan penguatan ketahanan komunitas.

Direktur Kepulangan dan Rehabilitasi KP2MI, Seriulina Br. Tarigan, menjelaskan bahwa pelindungan dilakukan di setiap tahapan penempatan sesuai Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017.

“Pelindungan PMI kami laksanakan sebelum, selama, dan setelah penempatan melalui peningkatan kualitas dan keterampilan CPMI. Pembagian kewenangan antara pemerintah pusat, daerah, dan desa menjadi kunci dalam pencegahan dan deteksi dini permasalahan PMI,” ujar Seriulina.

Data KP2MI mencatat hingga 31 Oktober 2026, sebanyak 23.671 PMI telah difasilitasi kepulangannya. Sementara itu, Kepala PPSDM KP2MI, Dr. Nora Kartika Setyaningrum, menyoroti posisi strategis NTB sebagai daerah asal PMI terbesar keempat secara nasional dengan jumlah 35.215 orang pada tahun 2025.

“Pelindungan PMI harus dilaksanakan secara menyeluruh dan berkesinambungan dari hulu hingga hilir. PPSDM berperan meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pengembangan kompetensi agar mampu memberikan pelayanan optimal,” tegas Nora.

Dalam sesi pendampingan, para peserta dilatih melakukan analisis kasus, literasi digital, hingga simulasi penyusunan rencana aksi komunitas.

Pendekatan partisipatif ini diharapkan mampu menjadikan komunitas PMI sebagai garda terdepan dalam mendeteksi potensi risiko ekstremisme di lingkungan masing-masing tanpa pendekatan penghakiman.

Sinergi lintas lembaga ini akan terus diperkuat melalui pertukaran informasi dan mekanisme pelaporan yang lebih responsif.

Penulis : Jonathan Sahese / Jurnalis – Lokasi : (Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat)