Mataram, HOTTOPIC – Guru Besar Sastra dan Budaya Universitas Mataram (Unram), Profesor Nuriadi, mengingatkan pemerintah agar rekonstruksi Kampung Adat Sade di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, tidak menyeragamkan bentuk rumah layaknya sebuah kompleks perumahan. Peringatan ini disampaikan di Mataram pada Jumat (04/09/2026).
Nuriadi menegaskan bahwa proses rekonstruksi harus dilakukan secara hati-hati agar tidak menghilangkan otentisitas dan nilai budaya yang selama ini menjadi jati diri warga setempat.
“Jangan sampai seperti komplek perumahan, kesannya seperti dibuat-buat, bukan original, sehingga perlu dibicarakan detail oleh pihak yang bertanggung jawab mengenai pola bentuknya seperti apa,” ujar Nuriadi.
Nuriadi menekankan bahwa Sade merupakan ikon wisata budaya yang merepresentasikan suku Sasak secara menyeluruh, mulai dari arsitektur hingga tradisi. Oleh sebab itu, pembangunan kembali harus memposisikan peristiwa ini sebagai musibah kebudayaan, bukan sekadar perbaikan hunian.
“Sade ini dianggap sebagai tidak hanya musibah kebakaran hunian atau kampung, tapi musibah kebudayaan,” kata Nuriadi.
Ia mendorong pemerintah untuk berkolaborasi intensif dengan masyarakat dan tokoh adat guna mengembalikan memori kolektif terkait fungsi dan tata letak bangunan. Menurutnya, pola pemukiman yang rapat di Sade adalah bagian dari karakter kehidupan komunal masyarakat Sasak yang tidak boleh dihilangkan begitu saja.
Nuriadi menutup dengan harapan agar tim rekonstruksi tidak hanya fokus pada pembangunan fisik semata, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif warga untuk menghadirkan kembali unsur budaya tak benda yang menjadi nyawa dari Kampung Adat Sade.
Pewarta: Ichan
Editor: Saiful Muhlis

