Lombok Barat, HOTTOPIC – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan musim kemarau di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) berpeluang berlangsung lebih lama hingga akhir November 2026. Kondisi ini menyebabkan awal musim hujan yang biasanya terjadi pada November, diperkirakan mundur hingga Desember.
Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB, Suci Agustiarini, mengungkapkan bahwa perluasan wilayah yang terdampak kekeringan meteorologis terus meningkat seiring rendahnya potensi curah hujan dalam beberapa dasarian mendatang.
“Kekeringan semakin meluas. Peringatan dini berlaku untuk satu dasarian ke depan dan masih ada potensi perluasan, karena potensi hujan beberapa dasarian mendatang sangat rendah,” ujar Suci saat ditemui di Stasiun Klimatologi NTB, Lombok Barat, Selasa (8/9/2026).
Berdasarkan pantauan BMKG hingga Dasarian III Agustus 2026, fenomena El Nino yang masih kuat menjadi faktor utama mundurnya musim hujan. Kondisi ini diperburuk dengan Hari Tanpa Hujan (HTH) yang mencapai kategori ekstrem di beberapa wilayah, seperti di Pos Hujan Bolo, Kabupaten Bima, yang mencatatkan HTH selama 105 hari.
“El Nino kini berada pada kategori sangat kuat dengan indeks mencapai 2,74. Angka itu diprediksi bertahan hingga akhir tahun 2026, baru kemudian melemah menjadi kategori kuat hingga moderat pada awal 2027, namun tetap dalam fase El Nino,” jelas Suci.
Sebagai langkah antisipasi, BMKG menekankan pentingnya efisiensi penggunaan air oleh masyarakat guna menghadapi ancaman krisis air bersih yang diprediksi akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.
Lebih lanjut dia meminta masyarakat untuk mewaspadai keterbatasan ketersediaan air dalam beberapa bulan ke depan. Masyarakat juga diimbau menggunakan air secara hemat sebagai langkah antisipasi menghadapi kemarau yang berpotensi berlangsung lebih panjang.
Pewarta: Ichan
Editor: Saiful Muhlis

