Jakarta, HOTTOPIC – Warga Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, berharap normalisasi Kali Mampang berjalan optimal untuk mengurangi risiko banjir yang berulang kali melanda permukiman mereka selama hampir 40 tahun.
Salah seorang warga RT 15/RW 05, Kelurahan Kuningan Barat, Rini, mengatakan air mudah masuk ke kawasan tempat tinggalnya ketika musim hujan.
“Kalau musim hujan, asal hujan sedikit juga sudah datang airnya,” kata salah seorang warga RT 15/RW 05, Kelurahan Kuningan Barat, Rini saat ditemui di Jakarta, Jumat.
Rini menyebut banjir telah menjadi persoalan yang terus dihadapi warga sejak hampir empat dekade terakhir. Dia masih mengingat banjir besar yang pertama kali melanda kawasan tempat tinggalnya pada 1997. Saat itu, ketinggian air mencapai sekitar dua meter, bahkan menyentuh genteng rumah.
Menurut Rini, kawasan tersebut sempat relatif aman dari banjir pada masa kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, banjir kembali terjadi.
Genangan dapat bertahan selama tiga hingga empat hari sebelum benar-benar surut, bergantung pada kondisi banjir. Situasi itu membuat warga harus bersiap menghadapi kemungkinan evakuasi setiap kali hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
“Semua mengungsi. Ada yang ke masjid, pokoknya ke tempat yang lebih tinggi,” ujar Rini.
Untuk mengantisipasi banjir, Rini tidak lagi menyimpan banyak barang di lantai dasar rumahnya. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko kerusakan ketika air kembali memasuki permukiman.
Selain merusak barang, banjir mengganggu aktivitas dan menyulitkan warga memenuhi kebutuhan sehari-hari karena akses keluar permukiman terputus.
“Rugi semua-semua. Makan juga susah mencarinya, karena akses keluar sulit,” tutur Rini.
Normalisasi Kali Mampang dan Kali Krukut
Harapan warga terhadap penanganan banjir kembali mengemuka saat Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau pekerjaan normalisasi Kali Mampang Segmen Poncol, Kuningan Barat, Kamis (29/10) pagi.
Peninjauan dilakukan untuk memastikan pengerukan sedimentasi dan pemeliharaan turap berjalan optimal. Pekerjaan itu ditujukan untuk meningkatkan kapasitas aliran sungai serta mengurangi risiko banjir menjelang musim hujan.
Pramono menjelaskan, Mampang dan sekitarnya merupakan salah satu wilayah rawan banjir karena kondisi geografisnya berupa cekungan. Hujan dengan intensitas sekitar 100 milimeter per hari dapat memicu genangan dan banjir di sejumlah titik.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan penanganan secara terintegrasi, mulai dari pembangunan embung hingga pembenahan Kali Mampang dan Kali Krukut.
Berdasarkan data pekerjaan, pengerukan Kali Mampang telah mengangkat sekitar 4.393 meter kubik sedimentasi, dengan sisa pekerjaan sekitar 14.727 meter kubik.
Sementara itu, pengerukan Kali Krukut telah mengangkat 8.507,3 meter kubik sedimentasi, dengan sisa sekitar 142.692,7 meter kubik.
Selain pengerukan, pemeliharaan turap dilakukan di Kali Mampang-Jalan Poncol Jaya sepanjang 300 meter dan Kali Krukut-Kompleks Canadiyanti sepanjang 241,7 meter.
Pekerjaan tersebut bertujuan memperlancar aliran air dan mengurangi potensi banjir di sejumlah kawasan, termasuk Mampang Prapatan, Pasar Minggu, dan Pancoran, terutama di sekitar Pondok Karya, Pondok Jaya, Kemang Utara IX, dan Pejaten Barat.
Penanganan serupa juga dilakukan terhadap sejumlah sungai lain di Jakarta, di antaranya Ciliwung, Cakung Lama, dan Angke.
Pewarta: Rara
Editor: Saiful Muhlis

