POTO TANO, HOTTOPIC – Keberadaan bandara khusus milik PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) di Desa Kiantar, Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, memicu lonjakan harga lahan yang signifikan di wilayah tersebut hingga ke kawasan Tua Nanga dan Kertasari.
Fenomena ekonomi ini terjadi seiring dengan rampungnya pembangunan bandara yang kini telah beroperasi penuh, mengubah nilai jual tanah dari ratusan juta per hektare menjadi puluhan juta per are.
Berdasarkan data yang dihimpun pada Jumat (12/9/2026), harga tanah di sekitar lokasi bandara mengalami kenaikan drastis dibandingkan tahun 2015 yang saat itu hanya berkisar Rp200 juta hingga Rp300 juta per hektare.
Pasca-pembebasan lahan melalui mekanisme appraisal pada 2021 yang menetapkan harga Rp427 juta hingga Rp527 juta per hektare, nilai jual lahan kini melonjak tajam hingga menembus angka Rp35 juta per are pada tahun 2026. Bahkan, di pasar daring, penawaran harga lahan di sekitar bandara telah mencapai Rp45 juta per are.
Salah satu warga pemilik lahan, Nuraini, mengonfirmasi dampak langsung dari operasional bandara tersebut terhadap nilai aset miliknya.
“Saya merasakan dampak langsung dari bandara, harga lahan saya naik berkali lipat. Tahun 2025, saya jual Rp26,5 juta per are, dan kemarin saya menjual Rp35 juta per are,” ungkap Nuraini saat dikonfirmasi mengenai transaksi lahan miliknya.
Dampak ekonomi ini tidak hanya terbatas di Desa Kiantar, tetapi merembet hingga ke wilayah Tua Nanga dan Kertasari. Sebelum adanya infrastruktur bandara, harga tanah di kawasan tersebut hanya berkisar Rp300 juta hingga Rp500 juta per hektare.
Kini, harga lahan di sekitar Tua Nanga dan Kertasari dilaporkan telah mencapai Rp30 juta hingga Rp50 juta per are. Kondisi ini menunjukkan bahwa kehadiran bandara khusus PT AMNT telah menjadi katalis utama dalam perubahan nilai ekonomi lahan di wilayah Poto Tano dan sekitarnya.
Penulis : Sabaruddin, S.Pd / Pendamping Desa – Lokasi : (Desa Kiantar, Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat)

