Waspada Gempa di NTB, Unram Teliti Perubahan Medan Magnet Bumi

Mataram, HOTTOPIC – Universitas Mataram (Unram) saat ini tengah meneliti perubahan medan magnet bumi atau geomagnet untuk mengkaji pola aktivitas kegempaan. Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari upaya nyata dalam meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman gempa bumi di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB).

Penelitian penting tersebut disampaikan oleh Ketua Magister Mitigasi Bencana Universitas Mataram, Teti Zubaidah. Ia menjelaskan bahwa riset ini dilakukan dengan cara menganalisis perubahan data geomagnet secara mendalam pada periode ketika aktivitas seismik mulai meningkat.

“Kita lebih aware dan waspada, oh ini seismik, aktivitasnya mulai meningkat nih, terukur,” ujar Teti di Mataram pada Kamis (1/10/2026).

Dalam pelaksanaannya, Teti mengungkapkan bahwa tim peneliti membandingkan data geomagnet dengan sejumlah kejadian gempa besar yang telah terjadi sebelumnya. Beberapa peristiwa gempa bumi yang menjadi objek perbandingan di antaranya meliputi gempa Flores, gempa Lombok, dan gempa Aceh, guna melihat pola perubahan medan magnet yang menyertainya.

Pengamatan yang dilakukan oleh tim peneliti mencakup berbagai indikator penting, mulai dari besaran medan magnet, arah perubahan, hingga pergerakan sudutnya. Seluruh data tersebut kemudian dikaji secara komprehensif untuk melihat keterkaitannya secara langsung dengan aktivitas kegempaan yang terjadi di dalam bumi.

Lebih lanjut, Teti menuturkan bahwa kajian ilmiah ini didasarkan pada karakteristik fisik batuan yang dapat mengalami perubahan sifat kemagnetan ketika mendapatkan tekanan yang besar. Tekanan tersebut erat kaitannya dengan proses tektonik yang terus berlangsung di wilayah pertemuan lempeng bumi.

“Sehingga, itu yang kami monitor, itu yang kami telusuri, seberapa menurunnya,” papar Teti.

Kendati demikian, dia menyampaikan bahwa penelitian jangka panjang ini membutuhkan proses pengumpulan data yang tidak sebentar. Oleh karena itu, hasil akhirnya belum dapat ditargetkan untuk selesai dalam kurun waktu tertentu.

Sebagai bagian dari metodologi riset, tim peneliti bahkan telah menganalisis data historis yang merentang sejak sekitar tahun 1950 hingga sekarang. Data masa lalu ini dibandingkan secara teliti terhadap berbagai kejadian gempa yang tercatat resmi dalam periode tersebut.

Teti menegaskan bahwa penelitian geomagnet ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk memprediksi atau menentukan waktu terjadinya gempa bumi secara pasti. Pengamatan yang dilakukan secara berkelanjutan ini diharapkan mampu memperlihatkan pola aktivitas seismik dengan lebih baik, sehingga tingkat kewaspadaan masyarakat terhadap potensi gempa dapat terus ditingkatkan.

Selain fokus melanjutkan penelitian mitigasi gempa bumi, Universitas Mataram kini juga mulai merambah dan mengembangkan kajian baru di bidang mitigasi vulkanologi. Salah satu wujud nyata dari upaya tersebut adalah merencanakan pembangunan kembali stasiun observatorium geomagnet yang berlokasi di kawasan lereng Sembalun.

Teti menambahkan bahwa pengembangan observasi geomagnet ini mutlak membutuhkan ketersediaan data yang kontinyu dan berkualitas tinggi. Dengan data yang akurat, pola perubahan medan magnet bumi dapat dikaji secara optimal dari waktu ke waktu guna mendukung keselamatan masyarakat.

Pewarta: Ichan
Editor: Saiful Muhlis