Pos PGA Tambora Edukasi Siswa SMAN 3 Pekat Hadapi Potensi Bencana Erupsi

Dompu, HOTTOPIC – Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Tambora melakukan sosialisasi mitigasi bencana erupsi Gunung Tambora kepada siswa dan tenaga pendidik di SMA Negeri 3 Pekat, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rawan bencana gunung api.

Kepala Pos PGA Tambora, Syatrin Kharis, menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire. Kondisi tersebut menyebabkan Indonesia memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap aktivitas kegempaan dan letusan gunung api.

“Indonesia berada di antara tiga lempeng aktif dunia yakni Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik sehingga membentuk rangkaian gunung api aktif dari Sumatera hingga Maluku,” ujarnya saat dikonfirmasi HOTTOPIC.

Gunung Tambora sendiri tercatat sebagai salah satu gunung api dengan sejarah erupsi terbesar di dunia. Sebelum letusan dahsyat tahun 1815, ketinggiannya diperkirakan mencapai 4.300 meter di atas permukaan laut (mdpl), namun menyusut menjadi 2.700 mdpl setelah membentuk kaldera raksasa akibat letusan tersebut. Dampak letusan tersebut bahkan mempengaruhi iklim global hingga ke Eropa.

“Dalam catatan sejarah lokal, letusan Tambora juga menimbun Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat, sementara Kerajaan Sanggar menjadi satu-satunya yang tersisa di sekitar kawasan itu,” katanya.

Kepala SMA Negeri 3 Pekat, Muhammad Kadafi, memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan sosialisasi tersebut. Menurutnya, pemahaman mengenai potensi ancaman erupsi gunung api sangat penting bagi para siswa di wilayah tersebut.

“Kami berharap para siswa memahami langkah mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana sehingga dapat melindungi diri maupun lingkungan sekitar,” ujarnya.

Dalam pemaparan materi, narasumber Imam Baihaqi Al Hakim menjelaskan bahwa Indonesia memiliki 127 gunung api aktif. Berdasarkan penelitian tahun 2013, Indonesia menempati peringkat pertama negara dengan ancaman erupsi gunung api tertinggi di dunia karena faktor kepadatan penduduk di sekitar gunung aktif.

“Keberhasilan mitigasi bencana membutuhkan keterlibatan semua pihak melalui dukungan pentahelix yakni pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, media, dan masyarakat,” katanya.

Sementara itu, narasumber Bima Prasetya Utama mengungkapkan bahwa aktivitas Gunung Tambora saat ini berada pada Level II atau Waspada. Status ini ditetapkan setelah adanya peningkatan aktivitas gempa vulkanik sejak awal Maret 2026 yang didominasi gempa vulkanik dalam.

“Masyarakat dan wisatawan diimbau tidak mendekati pusat aktivitas gunung api dalam radius minimal tiga kilometer, termasuk kawasan Kubah Lava Doro Api Toi, Doro Api Bou, dan lubang tembusan gas di dasar kaldera,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa potensi bahaya saat ini dapat berupa erupsi freatik atau letusan uap. Jenis letusan ini patut diwaspadai karena bisa terjadi secara tiba-tiba tanpa adanya peningkatan kegempaan yang signifikan.

Selain pemaparan materi, para peserta mendapatkan edukasi mengenai tanda-tanda peningkatan aktivitas vulkanik. Hal itu meliputi perubahan warna dan tinggi asap kawah, suara gemuruh, peningkatan aroma sulfur, hingga getaran gempa lokal. Kegiatan diakhiri dengan sesi tanya jawab mengenai prosedur evakuasi dan langkah penyelamatan diri. (HOTTOPIC NETWORK)