Lombok Timur, HOTTOPIC – Klinik Pariwisata Internasional Nusa Medica mulai beroperasi dan diharapkan dapat mendukung pelayanan terhadap wisatawan di kawasan Gunung Rinjani Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Direktur Operasional Nusa Medica Clinic Group, dokter Rosalia Puspita Jaya, menyatakan bahwa kehadiran klinik ini bertujuan memperkuat rasa aman bagi industri pariwisata sekaligus melayani masyarakat lokal.
“Klinik rawat jalan 24 jam ini tidak hanya memperkuat rasa aman industri pariwisata di NTB, tetapi juga berkomitmen melayani masyarakat lokal,” kata Rosalia Puspita Jaya di Lombok Timur, Kamis (21/05/2026).
Ia menjelaskan bahwa kehadiran klinik ini bertujuan mendukung pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan, khususnya pada penanganan gawat darurat pariwisata dan pendakian di Gunung Rinjani.
“Kami tidak hanya berfungsi sebagai klinik swasta, tapi juga mendukung Pemda dalam peningkatan layanan kesehatan masyarakat dan mensupport kegiatan pendakian Gunung Rinjani,” ujar Rosalia.
Sumber daya manusia di klinik tersebut diperkuat oleh empat dokter dan enam perawat yang berjaga secara bergantian, serta didukung tim farmasi, front office, dan pemasaran dengan total personel mencapai 15–20 orang.
“Fasilitas meliputi Automated External Defibrillator, monitor pemantau, ruang observasi 24 jam, layanan vaksinasi tifoid, demam berdarah, rabies, hingga apotek 24 jam dengan obat generik dan paten lengkap,” kata Rosalia.
Pihak pengelola juga membawa sistem evakuasi tingkat tinggi melalui kerja sama dengan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Basarnas, serta maskapai helikopter dan ambulans.
Kelebihan utama klinik ini adalah tersedianya sistem jaminan asuransi internasional cashless yang diperuntukkan bagi wisatawan asing.
“Turis bisa tidak membayar di klinik. Kalau punya asuransi, kami bisa membuka klaimnya hingga ke rumah sakit tujuan dengan helikopter,” katanya.
Ketua Tim Medis Edelweis Medical Help Center (EMHC) Sembalun, Mustiadi, menyambut positif kehadiran fasilitas tersebut karena evakuasi udara merupakan kebutuhan mendesak di destinasi internasional seperti Rinjani.
“Ke depan kita akan usahakan sistem informasi heli. Yang menyambungkan kita dan heli nanti adalah Nusa Medica,” kata Mustiadi.
Evakuasi udara diprioritaskan bagi korban dengan kondisi yang mengancam nyawa atau risiko cacat permanen, seperti patah tulang terbuka atau tertutup dan pendarahan hebat.
“Korban meninggal dunia tidak masuk kriteria evakuasi udara,” pungkasnya. (rara-HOTTOPIC)

