Cegah Kepunahan, NTB Genjot Digitalisasi Ribuan Manuskrip Kuno

Mataram, HOTTOPIC – Dinas Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah mendorong percepatan digitalisasi ribuan naskah kuno atau manuskrip guna memperkuat pelestarian dan pemanfaatan warisan budaya daerah agar terhindar dari kepunahan. Langkah strategis ini menjadi prioritas mengingat posisi NTB sebagai salah satu pemilik koleksi manuskrip terbanyak di Indonesia.

Kamis, (25/06/2026), Kepala Dinas Kebudayaan NTB, Muhamad Ihwan, menjelaskan bahwa upaya tersebut sejalan dengan visi Pemerintah Provinsi NTB untuk melindungi sekaligus memanfaatkan khazanah budaya lokal secara berkelanjutan.

Digitalisasi naskah kuno bagian dari visi misi kami dalam melakukan pelestarian dan perlindungan data, terutama khazanah kebudayaan, ujar Ihwan saat ditemui di Mataram.

Lebih lanjut, Ihwan menegaskan bahwa digitalisasi bukan sekadar metode penyimpanan, melainkan sarana transformasi digital agar koleksi manuskrip dapat diakses luas oleh masyarakat.

Ihwan menyimpulkan bahwa melalui digitalisasi, produk kebudayaan NTB dapat mendunia dan memberikan manfaat ekonomi serta edukasi secara global, sejalan dengan visi pembangunan Makmur Mendunia.

Makmur artinya (potensi manuskrip) bisa dimanfaatkan, sedangkan Mendunia berarti melalui digitalisasi membuat khazanah naskah kuno bisa dieksplorasi dan dinikmati oleh masyarakat dunia, kata Ihwan.

Berdasarkan data Perpustakaan Nasional, terdapat 5.113 naskah kuno di NTB. Saat ini, Museum NTB baru menyimpan 1.200 naskah, dengan 200 di antaranya (16,67 persen) telah terdigitalisasi. Sementara itu, sekitar 4.000 naskah lainnya masih tersebar di tangan masyarakat. Untuk menjangkau koleksi tersebut, Dinas Kebudayaan NTB mendorong Perpustakaan Nasional menerapkan strategi jemput bola ke pemilik naskah.

Kepala Museum NTB, Ahmad Nuralam, menambahkan bahwa pihaknya saat ini masih memiliki keterbatasan sarana prasarana untuk melakukan alih media secara mandiri, termasuk terhadap koleksi tertua berupa Al Quran kertas daluang abad ke-19.

Kami punya alat kamera dan mesin scanner, hanya saja itu belum begitu bagus. Peralatan digitalisasi manuskrip memerlukan piksel besar agar saat zoom gambar tidak pecah, karena membaca manuskrip lebih susah dibandingkan membaca tulisan di atas kertas, pungkas Nuralam.

Sebagai informasi, pada 22-25 Juni 2026, Perpustakaan Nasional telah menyelesaikan digitalisasi terhadap 51 naskah kuno milik Museum NTB, yang meningkatkan total koleksi digital menjadi 200 naskah. (rara-HOTTOPIC)