Dari Malaysia, Esan Membawa Rindu 19 Tahun yang Belum Selesai

LOMBOK TENGAH, HOTTOPIC – Di rumah sederhana di Desa Kabul, Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), seorang ibu beberapa tahun terakhir memiliki kebiasaan yang sulit dipahami keluarganya.

Ia kerap duduk lama di berugak kecil depan rumah sambil menatap jalan kampung di sebelah timur. Seolah ada seseorang yang masih ia tunggu pulang. Orang itu bernama Ihsan. Keluarga memanggilnya Esan.

Hampir 19 tahun lalu, Esan meninggalkan kampung halaman untuk bekerja di Malaysia. Ia pergi seperti banyak pemuda desa lainnya: membawa harapan memperbaiki ekonomi keluarga dan pulang dengan kehidupan yang lebih baik.

Namun waktu berjalan terlalu panjang. Kabar tentang Esan perlahan menghilang. Telepon tak lagi aktif. Tidak ada surat. Tidak ada teman yang datang membawa cerita tentang keberadaannya. Yang tersisa hanya penantian.

Di tengah ketidakpastian itu, keluarga sempat menerima kabar tentang kapal tenggelam di jalur Malaysia menuju Batam. Saat itu Esan disebut sedang bersiap pulang karena ayahnya sakit keras. Namun ia tidak pernah tiba.

Hari berganti bulan, bulan berubah tahun. Keluarga mulai hidup dengan kesedihan yang tak pernah benar-benar selesai. Ayah Esan meninggal dunia dalam penantian panjang tanpa sempat mengetahui nasib anaknya.

Di rumah kecil itu, keluarga bahkan nyaris menggelar tradisi nyiwaq, doa yang biasa dilakukan masyarakat Sasak untuk anggota keluarga yang diyakini telah tiada. Namun ibu Esan tetap menolak percaya anaknya meninggal.

“Dia selalu bilang Esan masih hidup,” ujar salah seorang kerabat keluarga.

Keyakinan itu akhirnya menemukan jawabannya pada Selasa malam, 12 Mei 2026. Sekitar pukul 19.20 Wita, sebuah pesan masuk melalui Facebook Messenger ke telepon genggam Joni Sutangga, paman Esan.

Pesannya sederhana. “Saya Esan paman.”

Awalnya Joni mengira seseorang sedang bercanda. Sebab nama itu seperti muncul kembali dari masa lalu yang perlahan sudah mulai diterima keluarga sebagai kehilangan.

Namun rasa penasaran membuatnya terus membalas pesan tersebut. Ia mulai bertanya tentang keluarga, kampung halaman, hingga nama-nama yang hanya diketahui orang dekat.

Jawaban demi jawaban membuat tubuhnya mulai gemetar. “Seketika saya tidak tenang. Saya berdiri, duduk lagi, berdiri lagi,” kata Joni mengenang malam itu.

Beberapa menit kemudian mereka melakukan video call. Di layar telepon itu muncul wajah yang selama hampir dua dekade hanya hidup dalam ingatan keluarga.

Esan terlihat lebih tua. Wajahnya kurus. Tatapannya kosong. Namun logat Sasaknya masih sama. Tangis pecah malam itu.

Joni langsung bergegas menuju rumah keluarga Esan. Warga mulai berdatangan setelah kabar bahwa Esan masih hidup menyebar cepat di kampung.

Saat video call kembali dilakukan di depan keluarga besar, ibunya menangis histeris memanggil nama anaknya. Adik perempuan Esan bahkan sempat pingsan.

Malam itu rumah kecil di Desa Kabul dipenuhi air mata, pelukan, dan rasa tidak percaya.

Dalam percakapan singkat dengan keluarga, Esan mengaku selama bertahun-tahun menghadapi persoalan hukum di Malaysia hingga harus menjalani hukuman penjara. Selama itulah komunikasi dengan keluarga terputus total.

Tidak ada telepon. Tidak ada akses untuk memberi kabar. Bagi keluarga di Lombok, kehilangan itu terasa seperti luka yang menggantung tanpa kepastian.

Esan sebenarnya berangkat ke Malaysia secara resmi pada 2007 bersama kakaknya, Bahri. Awalnya ia bekerja normal seperti pekerja migran lainnya.

Namun setelah masa kontraknya selesai, Esan memilih tetap tinggal di Malaysia sebagai pekerja nonprosedural. Kehidupan di negeri orang kemudian membawanya pada situasi yang tak pernah dibayangkan keluarganya.

Hingga akhirnya, setelah hampir dua dekade, jalan pulang itu benar-benar datang.

Perjalanan Esan menuju Lombok berlangsung panjang. Dari Malaysia ke Batam, lalu Jakarta, sebelum akhirnya diterbangkan menuju Bandara Internasional Lombok.

Saat tiba di Lombok pada Sabtu, 16 Mei 2026, Esan tidak datang membawa kemewahan atau kisah sukses seperti bayangan banyak orang tentang pekerja migran.

Ia pulang dengan tubuh letih dan tatapan yang menyimpan terlalu banyak cerita. Namun bagi keluarganya, semua itu tidak penting.

Yang mereka tunggu hanyalah kepulangan seseorang yang selama ini hampir mereka ikhlaskan untuk selamanya.

Kini, rumah kecil di Desa Kabul kembali ramai. Warga berdatangan hampir setiap malam. Anak-anak bermain di halaman. Sementara keluarga duduk mengelilingi Esan yang akhirnya benar-benar kembali ke rumah.

Bukan sekadar pulang dari Malaysia. Tetapi pulang dari kehilangan yang terlalu panjang.

Jurnalis: HOTTOPICnews Network
Editor: Basuki