MATARAM, HOTTOPIC – Dinas Sosial (Dinsos) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), meningkatkan pengawasan terhadap penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang beraktivitas di jalan raya.
Langkah ini dilakukan setelah adanya indikasi sejumlah PMKS, khususnya kelompok manusia silver, hulk, dan badut jalanan, melakukan tindakan yang dinilai meresahkan masyarakat dan mengganggu pengguna jalan.
Kepala Dinsos Kota Mataram, Muzakkir Walad, mengatakan pengawasan diperketat berdasarkan temuan tim satuan tugas yang melakukan pemantauan langsung di lapangan.
“Kondisi itu dilihat langsung oleh satgas kami yang sedang melakukan pengawasan terhadap PMKS, terutama kelompok manusia silver, hulk, dan badut,” katanya, Sabtu (20/6/2026).
Sementara itu, kelompok PMKS lainnya seperti gelandangan, pengemis, pengamen, dan anak jalanan masih dalam batas toleransi, meski tetap menjadi sasaran pengawasan rutin pemerintah daerah.
“Kalau manusia silver dan hulk itu, informasinya mereka memeras dan jika tidak dikasih, ada kawannya di belakang menunggu dan siap bertindak,” ujarnya.
Untuk memperkuat pengawasan, Dinsos Mataram melibatkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) serta aparat kepolisian guna mencegah potensi resistensi di lapangan.
“Kalau sudah berhadapan dengan urusan perut, mereka tidak peduli aturan sehingga potensi resistensinya tinggi. Untuk itu, kami perlu melibatkan aparat kepolisian dan Satpol PP,” kata Muzakkir.
Sementara itu, kelompok badut yang beroperasi di jalan telah mengajukan permohonan untuk bertemu Dinsos guna mencari solusi agar tidak kembali ke jalanan.
Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram berencana memberikan pembinaan serta alternatif pekerjaan melalui kerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Mataram.
“Jadi badut yang berasal dari Kota Mataram, kami siap fasilitasi untuk membuka lapangan kerja sesuai kemampuan mereka bekerja sama dengan Baznas,” ujarnya.
Untuk PMKS yang berasal dari luar daerah, Dinsos akan berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk proses pemulangan ke daerah asal.
“Jumlah PMKS jenis badut kurang dari 50 orang dan sebagian besar berasal dari luar Mataram. Mereka beroperasi di sejumlah tempat strategis seperti di lampu merah, supermarket, dan di eks Bandara Selaparang,” ungkap Muzakkir.
Jurnalis: Ant
Editor: Basuki

