Lombok Timur, HOTTOPIC – Masyarakat di Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, berupaya membangkitkan kembali dua warisan budaya lokal berupa komoditas kopi dan kerajinan tenun.
Di tengah tantangan zaman, kopi arabika Sembalun dan tenun tradisional kini kembali mendapat perhatian sebagai aset ekonomi sekaligus identitas budaya yang terancam punah. Keberhasilan menjaga tradisi ini sangat bergantung pada transformasi cara pengelolaan produk agar memiliki nilai jual tinggi di pasar modern.
Hajrul Azmi, pendiri Loka Coffee, mengungkapkan bahwa perubahan kualitas produksi menjadi kunci bagi para petani untuk tidak meninggalkan kebun kopi mereka. Sebelumnya, para petani sempat berniat beralih ke tanaman lain karena harga jual kopi yang rendah akibat proses pascapanen yang kurang optimal.
“Dulu harga kopi murah karena proses yang petani lakukan belum benar. Mereka panen campur, lalu dijemur di tanah atau terpal,” ujar Hajrul Azmi, Senin (24/8/2026).
Upaya inovasi serupa juga dilakukan dalam melestarikan tenun tradisional melalui Sembahulun Handmade. Dwi Ariska, pendiri sanggar tersebut, menegaskan bahwa regenerasi pengetahuan motif lama menjadi fokus utama agar warisan leluhur tidak hilang bersama wafatnya para perajin senior.
“Sekarang kami coba motif mana yang bisa dilestarikan lagi. Saat ini sudah ada sekitar empat sampai lima motif yang bisa dibuat para penenun di Sembalun,” jelas Dwi Ariska.
Pemerintah dan sektor swasta berperan penting dalam memberikan pendampingan bisnis guna memastikan produk lokal mampu bersaing dan memberikan keberlanjutan ekonomi bagi perajin maupun petani.
Senior Manager Social Impact Amman, Aji Suryanto, menyatakan bahwa dukungan perusahaan difokuskan pada peningkatan kualitas produk hingga penguatan jejaring pemasaran agar potensi lokal ini menjadi penggerak ekonomi daerah.
“Melalui pendampingan yang berkelanjutan, kami berharap produk lokal dapat semakin berdaya saing, memberi nilai tambah bagi masyarakat, dan menjadi bagian dari penguatan ekonomi daerah,” kata Aji Suryanto.
Pewarta: Ichan
Editor: Saiful Muhlis

