Perubahan Iklim, Nelayan Mataram Sulit Baca Cuaca dan Ekonomi Terancam

Mataram, HOTTOPIC – Fenomena perubahan iklim akibat emisi gas rumah kaca menyebabkan cuaca semakin sulit diprediksi dan memengaruhi aktivitas nelayan lokal di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Perubahan iklim telah mengikis pengetahuan tradisional nelayan dalam membaca arah angin, bentuk awan, dan pola gelombang. Ketidakpastian cuaca ini memaksa nelayan mengurangi waktu melaut, meningkatkan risiko keselamatan, serta menanggung beban operasional yang lebih tinggi karena harus mencari ikan lebih jauh ke tengah laut.

“Kami mulai kesulitan membaca cuaca yang cepat berubah. Bahkan, orang-orang Bali yang terkenal piawai membaca cuaca juga kesulitan,” ucap Baharudin saat ditemui di sela aktivitas memperbaiki jaring di pesisir Ampenan, Mataram, Selasa.

Kondisi ekonomi nelayan semakin tertekan karena penurunan populasi ikan di perairan dekat pantai akibat kerusakan lingkungan pesisir dan abrasi. Minimnya vegetasi alami seperti pohon waru di sepanjang pantai turut mempercepat pengikisan daratan yang kini mengancam rumah penduduk di pesisir Kota Tua Ampenan.

Bahri, seorang nelayan berusia 60 tahun, menyatakan bahwa penurunan hasil tangkapan dan cuaca ekstrem membuat intensitas nelayan melaut menurun drastis dibanding beberapa tahun lalu.

“Kalau musim ikan dulu kan semua melaut. Sekarang, tetangga-tetangga ada yang pergi satu orang, dua orang saja,” ucap pria berusia 60 tahun tersebut.

Pemerintah Provinsi NTB menyadari ancaman serius ini bagi wilayah pesisir yang mencakup 292 desa/kelurahan di NTB. Sebagai langkah mitigasi, pemerintah daerah menekankan pentingnya kebijakan berbasis bukti ilmiah dalam menangani krisis iklim.

Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Abul Chair, menegaskan penguatan kebijakan berbasis data dan bukti ilmiah sebagai langkah strategis dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Untuk merespons tantangan tersebut, NTB telah menyusun program NTB Lestari Berkelanjutan dalam dokumen RPJMD 2025-2029 yang fokus pada pemulihan ekosistem pesisir, penguatan sektor kehutanan, serta peningkatan ketangguhan masyarakat pesisir terhadap bencana alam.

Pewarta: Ichan
Editor: Saiful Muhlis