NTB, HOTTOPIC – Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Nusa Tenggara Barat (NTB) secara resmi meluncurkan sayembara riset dan inovasi daerah yang menyasar peneliti muda tahun 2026. Program ini dirancang untuk menjaring solusi berbasis riset terhadap tantangan pembangunan di wilayah NTB.
Kepala Brida NTB, I Gede Putu Aryadi, mengungkapkan bahwa sayembara ini merupakan inisiatif perdana yang digagas langsung oleh Gubernur NTB untuk memperkuat ekosistem riset daerah.
“Sayembara ini menjadi ruang kolaborasi bagi peneliti muda untuk menghadirkan solusi nyata atas berbagai persoalan pembangunan di NTB,” ujar Gede Aryadi di Lombok Barat, Selasa (4/8/2026).
Menurutnya, hasil riset tidak boleh berhenti sebagai dokumen ilmiah semata, melainkan harus dikembangkan menjadi inovasi terapan sebagai dasar pengambilan kebijakan publik yang bermanfaat luas bagi masyarakat.
“Brida NTB menetapkan tiga tema prioritas penelitian, yakni pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan dan energi, serta pariwisata berkelanjutan,” ungkap Gede Aryadi.
Ia menekankan bahwa NTB memiliki potensi riset yang besar melalui jaringan perguruan tinggi dan lembaga penelitian yang ada, yang kini perlu disinergikan dengan kebutuhan pembangunan daerah.
Sebagai bentuk keseriusan, Brida NTB memberikan stimulus pendanaan serta pendampingan intensif bagi para pemenang agar hasil penelitian dapat segera diimplementasikan.
“Sebanyak 15 proposal terbaik nantinya akan memperoleh pendanaan stimulus sebesar Rp30 juta per proposal, disertai pendampingan oleh tim evaluasi hingga tahap implementasi agar hasil riset dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, anggota Tim Evaluasi, Khairul Hamim, menjelaskan bahwa ajang ini bertujuan menguji kapasitas peneliti muda dalam membedah persoalan daerah secara saintifik.
“Sayembara riset bukan sekadar kompetisi, melainkan wadah untuk menguji kemampuan peneliti muda dalam menawarkan solusi atas persoalan daerah,” ujar Khairul Hamim.
Khairul menegaskan bahwa riset yang dihasilkan harus bersifat aplikatif dan menjadi basis kebijakan yang kuat dalam mendukung pembangunan di NTB.
Terkait teknis, ia merinci bahwa pada bidang pengentasan kemiskinan, peserta diharapkan fokus pada model intervensi, evaluasi program pemerintah, tata kelola desa, dan pemberdayaan masyarakat.
Untuk bidang ketahanan pangan dan energi, penelitian diarahkan pada peningkatan produktivitas pertanian, diversifikasi pangan lokal, hilirisasi hasil pertanian, hingga pengembangan energi.
“Adapun tema pariwisata berkelanjutan mencakup pengelolaan destinasi, penguatan pariwisata berbasis masyarakat, konservasi lingkungan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia sektor pariwisata,” tambah Khairul.
Pewarta: Ichan
Editor: Saiful Muhlis

