Mataram, HOTTOPIC – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan savana Taman Nasional (TN) Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebanyak 1.956 hektare area savana dilaporkan terdampak oleh insiden yang pertama kali terdeteksi pada Minggu (05/07/2026) pukul 13.30 WITA di Resort Piong.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, menjelaskan penyebab cepatnya penyebaran api di wilayah tersebut.
“Saat terbakar kondisi di lokasi kering, vegetasi savana mudah terbakar, ditambah hembusan angin cukup kencang dengan topografi pegunungan, serta keterbatasan sumber air sehingga menyebabkan api cepat meluas,” ujarnya, Kamis (9/7/2026).
Dwi Januanto menekankan bahwa dampak kebakaran ini meluas hingga ke aspek ekologi dan ekonomi masyarakat.
“Kebakaran melanda savana Tambora, tidak hanya mengancam habitat satwa liar dan kawasan konservasi bernilai tinggi, tetapi juga berpotensi berdampak terhadap masyarakat sekitar. Termasuk, mengganggu kualitas udara, bahkan dapat mempengaruhi aktivitas wisata alam yang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat sekitar,” ungkapnya.
Dalam upaya penanganan, ia menjelaskan bahwa sejak awal kejadian, BTN Tambora bersama Masyarakat Peduli Api (MPA) terus melakukan upaya pengendalian awal untuk membatasi penyebaran api sambil terus memantau perkembangan kondisi di lapangan.
“Berdasarkan hasil pemantauan titik panas (hotspot) serta koordinasi antara BTN Tambora dan Balai Dalkarhut Jabalnusra, Kemenhut menurunkan satu regu Manggala Agni dari Seksi Wilayah III Mataram untuk memperkuat operasi pemadaman,” terangnya.
Sebagai langkah tegas, Dwi Januanto menegaskan perlunya kolaborasi semua pihak dalam menjaga kawasan tersebut.
“Pengendalian kebakaran tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi seluruh pihak agar pencegahan menjadi budaya bersama. Pada saat yang sama, setiap pelanggaran hukum yang menyebabkan kebakaran akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, Bambang Setyo Antoko, menyoroti strategi pemadaman yang diterapkan di medan yang sulit.
“Karakteristik savana di Tambora membuat api dapat menjalar dengan cepat, terutama saat kondisi angin menguat dan sumber air terbatas. Karena itu, strategi pemadaman terus disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan agar penyebaran api dapat dikendalikan secara efektif,” ujarnya.
Mengenai langkah selanjutnya, Bambang menegaskan bahwa seluruh unsur yang terlibat terus bekerja secara terpadu dengan mengutamakan keselamatan personel sekaligus melindungi kawasan yang masih dapat diselamatkan.
“Operasi pemadaman masih terus berlangsung,” katanya.
Sebagai upaya mitigasi berkelanjutan, ia menambahkan bahwa Kemenhut mengajak pemerintah daerah, aparat kewilayahan, pengelola kawasan, pelaku wisata, dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau, menghindari aktivitas yang memicu kebakaran, serta segera melaporkan indikasi kebakaran sedini mungkin.
Pewarta: Ichan
Editor: Saiful Muhlis

